Omzet vs Untung: Bedanya dan Kenapa Kas Bisa Tetap Tipis — Blog Taraf
Coba Taraf

Pembukuan Usaha

Omzet vs Untung: Bedanya dan Kenapa Kas Bisa Tetap Tipis

Tim Redaksi Taraf · · 4 menit baca

Jawaban singkat

Omzet adalah seluruh uang dari penjualan, untung adalah sisa setelah dikurangi modal barang dan biaya menjalankan usaha. Omzet besar belum tentu untung besar, dan untung besar belum tentu membuat uang di laci tebal, karena uang bisa tertahan di stok, kasbon pelanggan, atau terambil untuk keperluan pribadi.

Kalimat "usaha saya ramai tapi uangnya tidak ada" hampir selalu berasal dari satu hal: omzet dan untung dianggap sama. Keduanya adalah angka yang berbeda, dan uang di tangan adalah angka ketiga. Kalau kamu bisa memisahkan ketiganya, kamu langsung tahu masalahnya ada di mana: harga jual, biaya, atau cara mengelola kas.

Tiga angka yang sering tertukar

IstilahArtinyaCara hitungnya
OmzetTotal uang dari penjualan dalam satu periodeHarga jual × jumlah terjual
Laba kotorSisa omzet setelah modal barang yang terjualOmzet − HPP (modal bahan atau barang yang terjual)
Laba bersihSisa setelah modal dan semua biaya operasionalLaba kotor − biaya operasional (dan pajak, bila ada)
KasUang yang benar-benar ada di laci dan rekeningBerubah oleh untung, stok, kasbon, cicilan, dan pengambilan pribadi

Untuk menghitung modal per produk, lihat cara menghitung HPP dan harga jual. Kalau kamu ingin rumus laba bersih yang lebih lengkap, baca cara menghitung laba bersih usaha.

Contoh sebuah warung makan dalam satu bulan

Contoh (angka rekaan untuk ilustrasi, bukan patokan usaha apa pun): sebuah warung makan mencatat omzet Rp30.000.000 dalam sebulan.

PosJumlah (contoh)Keterangan
OmzetRp30.000.000Semua penjualan bulan itu
HPP (bahan yang terjual)Rp18.000.00060% dari omzet
Laba kotorRp12.000.00040% dari omzet
Gaji satu karyawanRp2.500.000Biaya operasional
Sewa tempatRp2.000.000Biaya operasional
Listrik, gas, airRp1.500.000Biaya operasional
Kemasan dan lain-lainRp1.000.000Biaya operasional
Total biaya operasionalRp7.000.000
Laba bersih (sebelum pajak)Rp5.000.000Sekitar 16,7% dari omzet

Dari omzet Rp30.000.000, yang benar-benar menjadi untung hanya Rp5.000.000. Jika pemilik mengira Rp30.000.000 adalah miliknya, wajar kalau uangnya terasa selalu kurang. Soal pajak yang berlaku untuk usahamu, baca pajak UMKM PPh final.

Kenapa untung Rp5.000.000, tetapi kas malah turun

Lanjutan contoh yang sama. Selama bulan itu, pemilik melakukan hal-hal berikut yang tidak muncul sebagai biaya, tetapi tetap mengeluarkan uang.

Perubahan kas (contoh)Jumlah
Laba bersih bulan itu+ Rp5.000.000
Menambah stok bahan (belanja lebih banyak dari yang terpakai)− Rp2.000.000
Pelanggan berutang (kasbon belum dibayar)− Rp1.000.000
Cicilan pokok alat dapur (bukan biaya, bunganya terpisah)− Rp1.000.000
Diambil pemilik untuk keperluan pribadi− Rp3.000.000
Perubahan kas bulan itu− Rp2.000.000

Usahanya untung, tetapi kas turun Rp2.000.000. Tidak ada yang salah dengan hitungan untungnya; yang terjadi adalah uang berpindah bentuk menjadi stok dan piutang, lalu sebagian keluar untuk cicilan dan keperluan pribadi. Cara memantau pergerakan ini ada di cara mengelola arus kas usaha kecil, dan soal piutang pelanggan ada di cara mencatat kasbon pelanggan.

Cara memeriksanya tiap akhir bulan

  1. Tulis omzet bulan itu dari catatan penjualan, bukan dari ingatan atau isi laci.
  2. Kurangi modal barang yang terjual untuk mendapat laba kotor, lalu hitung persentasenya terhadap omzet.
  3. Kurangi semua biaya operasional, termasuk yang sering lupa: listrik, kemasan, ongkos kirim, dan gaji untuk dirimu sendiri bila memungkinkan.
  4. Bandingkan untung dengan perubahan kas. Kalau berbeda jauh, cari penyebabnya di tiga tempat: stok bertambah, kasbon menumpuk, atau pengambilan pribadi.
  5. Tetapkan jumlah yang boleh diambil pemilik, misalnya sebagian dari laba bersih, bukan dari kas harian.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Menyebut omzet sebagai penghasilan. Omzet adalah pemasukan usaha, penghasilanmu adalah bagian dari untung yang kamu ambil.
  • Tidak memasukkan modal yang ikut terpakai. Bahan yang dipakai sendiri, rusak, atau dibagikan tetap modal yang hilang.
  • Mencampur uang pribadi dan uang usaha. Tanpa pemisahan, tidak mungkin tahu untung yang sebenarnya.
  • Menganggap kas tebal berarti untung. Kas bisa tebal karena uang muka pesanan atau belum membayar supplier.
  • Menaikkan omzet dengan diskon besar tanpa menghitung. Penjualan naik tetapi untung bisa turun. Lihat cara menghitung diskon maksimal agar tidak rugi.

Di Taraf Usaha, penjualan yang dicatat lewat kasir otomatis menjadi omzet, dan modal tiap produk yang kamu isi dipakai untuk menampilkan untung kotor di laporan. Pengeluaran, kasbon, dan hutang ke supplier bisa dicatat di tempat yang sama, jadi gambaran untung dan kas terlihat berdampingan. Hitungan di artikel ini bisa kamu jalankan dengan buku catatan atau spreadsheet apa saja.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa bedanya omzet dan pendapatan?

Dalam obrolan sehari-hari keduanya sering dipakai bergantian untuk menyebut total uang dari penjualan. Yang penting kamu tahu bahwa angka itu belum dikurangi modal dan biaya, jadi bukan angka keuntungan.

Berapa persen untung yang wajar dari omzet?

Tidak ada angka tunggal, karena berbeda menurut jenis usaha, harga bahan, dan biaya tempat. Cara yang lebih berguna adalah membandingkan persentase untung bersihmu dari bulan ke bulan, lalu mencari penyebab kalau turun.

Kenapa untung di laporan besar tapi uangku sedikit?

Periksa tiga hal: stok yang bertambah, kasbon yang belum dibayar, dan uang yang diambil untuk keperluan pribadi atau cicilan. Ketiganya mengurangi kas tanpa mengurangi untung.

Apakah gaji pemilik termasuk biaya usaha?

Sebaiknya ya. Kalau pemilik ikut bekerja, tentukan nominal gaji yang wajar dan catat sebagai biaya. Dengan begitu, untung yang tersisa menunjukkan kondisi usaha yang sebenarnya, bukan sekadar hasil kerja gratis pemiliknya.

Cara kami menulis & memeriksa fakta ada di Kebijakan Redaksi. Artikel ini untuk edukasi, bukan nasihat keuangan, pajak, atau hukum untuk kondisi pribadimu — dan Taraf tidak menjual atau merekomendasikan produk keuangan apa pun.

Baca juga

Cara Menentukan Gaji Sendiri sebagai Pemilik Usaha KecilCara Menentukan Harga Jasa Salon, Barbershop, dan BengkelCara Menghitung Food Cost Persen untuk Kafe dan Warung Makan