Cara Menghitung Food Cost Persen untuk Kafe dan Warung Makan — Blog Taraf
Coba Taraf

Pembukuan Usaha

Cara Menghitung Food Cost Persen untuk Kafe dan Warung Makan

Tim Redaksi Taraf · · 6 menit baca

Jawaban singkat

Food cost persen adalah biaya bahan makanan dan minuman dibagi harga jual (atau penjualan), dikali 100%. Hitung dengan dua cara: per menu dari resep, dan per bulan dari stok serta belanja yang benar-benar terpakai. Selisih keduanya menunjukkan bahan yang bocor. Tidak ada satu angka ideal untuk semua usaha; targetmu dihitung dari biaya lain dan laba yang kamu inginkan.

Banyak kafe dan warung makan ramai tapi labanya tipis karena bahan baku diam-diam memakan porsi penjualan yang terlalu besar. Food cost persen adalah angka paling sederhana untuk melihatnya. Artikel ini untuk pemilik usaha makanan dan minuman yang ingin tahu apakah harga jualnya sudah sehat, dan di mana bahan bocor tanpa terasa.

Apa yang dihitung sebagai food cost?

Food cost hanya mencakup bahan yang masuk ke piring atau gelas: bahan utama, bumbu, minyak, susu, gula, es, garnish. Gaji, sewa, listrik, dan gas tidak termasuk; itu biaya operasional. Kemasan bawa pulang boleh dimasukkan atau dipisah, asal caranya sama setiap bulan supaya angkanya bisa dibandingkan. Kalau kamu menagih pajak atau biaya layanan terpisah di atas harga menu, pakai harga sebelum tambahan itu sebagai penjualan.

Food cost per menu adalah bagian bahan dari HPP. Kalau HPP-mu belum rapi, mulai dulu dari cara menghitung HPP dan harga jual.

Cara 1: Food cost per menu (dari resep)

Rumusnya: food cost per menu = total biaya bahan satu porsi ÷ harga jual × 100%. Hitung bahan sesuai takaran yang benar-benar dipakai dapur, termasuk bagian yang terbuang saat diolah, misalnya kulit, tulang, atau minyak yang tersisa di wajan.

Contoh (angka rekaan untuk ilustrasi): nasi ayam geprek dijual Rp25.000 per porsi.

Bahan per porsi (contoh)Biaya
Ayam 1 potong (sudah termasuk bagian terbuang)Rp6.000
NasiRp1.500
Tepung bumbuRp600
Minyak goreng (bagian per porsi)Rp500
Cabai, bawang, garam untuk sambalRp1.200
LalapanRp400
Total bahanRp10.200

Food cost-nya Rp10.200 ÷ Rp25.000 × 100% = 40,8%. Sebagai pembanding, es teh manis dengan bahan Rp1.200 yang dijual Rp5.000 punya food cost 24%. Karena itu food cost total usahamu sangat dipengaruhi menu apa yang paling banyak terjual, bukan hanya resepnya.

Cara 2: Food cost per bulan (yang benar-benar terpakai)

Resep menunjukkan angka di atas kertas. Untuk tahu yang terjadi di dapur, hitung pemakaian bahan sebenarnya dalam satu periode:

  1. Hitung nilai stok bahan di awal bulan (hasil stok opname). Kalau belum terbiasa, baca apa itu stok opname.
  2. Jumlahkan semua belanja bahan selama bulan itu dari nota.
  3. Hitung nilai stok bahan di akhir bulan.
  4. Pemakaian bahan = stok awal + belanja − stok akhir.
  5. Food cost bulanan = pemakaian bahan ÷ total penjualan makanan dan minuman × 100%.

Contoh hitungan: menemukan bahan yang bocor

Misalkan sebuah warung makan pada bulan Oktober mencatat angka berikut.

Komponen (contoh)Nilai
Stok bahan awal bulanRp3.000.000
Belanja bahan selama sebulanRp12.000.000
Stok bahan akhir bulanRp2.500.000
Pemakaian bahan sebenarnyaRp12.500.000
Penjualan makanan dan minumanRp34.000.000
Food cost sebenarnya36,8%
Food cost menurut resep × jumlah porsi terjualRp11.220.000 (33,0%)
SelisihRp1.280.000 (3,8 poin)

Langkah hitungnya: Rp3.000.000 + Rp12.000.000 − Rp2.500.000 = Rp12.500.000. Lalu Rp12.500.000 ÷ Rp34.000.000 × 100% ≈ 36,8%. Menurut resep dan jumlah porsi yang terjual, mestinya bahan yang terpakai hanya Rp11.220.000. Selisih Rp1.280.000 sebulan itu adalah bahan yang tidak menjadi penjualan: porsi yang lebih besar dari resep, bahan basi atau terbuang, salah catat, atau bahan yang hilang.

Cara membaca cepat: pada penjualan Rp34.000.000, setiap 1 poin food cost bernilai Rp340.000 per bulan. Menutup selisih 3,8 poin berarti menambah laba sekitar Rp1,28 juta tanpa menaikkan harga dan tanpa mencari pembeli baru.

Berapa food cost yang wajar untuk usahamu?

Tidak ada satu angka yang benar untuk semua usaha. Kedai minuman biasanya punya food cost lebih rendah daripada rumah makan berbahan protein mahal, dan usaha dengan sewa tinggi butuh food cost lebih rendah supaya tetap untung. Lebih tepat menghitung batas atas milikmu sendiri:

Batas food cost = 100% − (biaya operasional lain sebagai persen penjualan) − (laba yang kamu inginkan). Contoh: gaji, sewa, listrik, gas, dan kemasan menghabiskan 42% dari penjualan, dan kamu ingin laba 20%. Maka food cost maksimal 100% − 42% − 20% = 38%. Di warung contoh di atas, food cost sebenarnya 36,8% masih di bawah batas, tetapi ruangnya tipis. Kenaikan harga bahan sedikit saja bisa menghapus laba targetmu. Beda laba kotor dan laba bersih dibahas di omzet vs untung.

Cara menurunkan food cost tanpa mengurangi mutu

  • Standarkan takaran. Pakai sendok takar, timbangan, dan gelas ukur. Porsi yang "kira-kira" adalah sumber selisih paling umum.
  • Pakai bahan yang masuk lebih dulu. Susun rak supaya bahan lama dipakai duluan, dan beri label tanggal pada bahan yang sudah dibuka.
  • Manfaatkan bahan sisa olahan. Misalnya tulang ayam untuk kaldu atau roti kemarin untuk menu lain, selama masih layak dan aman.
  • Arahkan pembeli ke menu ber-food cost rendah. Letakkan di posisi mencolok, beri foto yang menarik, atau tawarkan sebagai paket. Hitung dulu margin paketnya seperti di cara menghitung diskon maksimal.
  • Cek harga belanja tiap bulan. Bandingkan beberapa pemasok dan pertimbangkan beli dalam jumlah lebih besar untuk bahan tahan lama, asal tempat simpannya cukup.
  • Naikkan harga bertahap bila memang perlu. Kalau bahan naik terus, menaikkan harga sedikit sering lebih aman daripada mengecilkan porsi diam-diam.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Menghitung dengan harga beli lama. Food cost resep harus diperbarui setiap kali harga bahan berubah.
  • Lupa bagian yang terbuang saat diolah. Ayam utuh, sayur, dan buah menyusut setelah dibersihkan. Hitung biaya per berat yang benar-benar dipakai.
  • Melewatkan stok opname. Tanpa stok awal dan akhir, angka belanja sebulan bukan food cost; bisa terlalu tinggi saat kamu menimbun, atau terlalu rendah saat stok habis.
  • Mencampur angka persen dengan rupiah. Food cost turun dari 40% ke 36% belum tentu laba naik kalau penjualannya juga turun. Selalu lihat laba rupiahnya juga, dan pahami bedanya lewat margin vs markup.
  • Mengecilkan porsi tanpa bilang. Pelanggan tetap biasanya sadar, dan kepercayaan lebih mahal daripada selisih bahan.

Kalau kamu memakai Ruang Usaha Taraf, resep dan bahan baku bisa dicatat per menu sehingga bahan berkurang otomatis setiap kali menu terjual, dan stok opname membantu membandingkan pemakaian menurut resep dengan stok yang benar-benar tersisa. Hitungan di artikel ini tetap bisa kamu lakukan dengan buku catatan dan kalkulator.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa rumus food cost persen?

Per menu: biaya bahan satu porsi ÷ harga jual × 100%. Per bulan: (stok awal + belanja − stok akhir) ÷ penjualan makanan dan minuman × 100%. Contoh: bahan Rp10.200 untuk menu seharga Rp25.000 berarti food cost 40,8%.

Berapa persen food cost yang ideal?

Tidak ada satu angka untuk semua usaha karena biaya sewa, gaji, dan jenis menu berbeda. Hitung batasmu sendiri: 100% dikurangi persen biaya operasional lain dikurangi laba yang kamu inginkan. Contoh: biaya lain 42% dan target laba 20% berarti food cost maksimal 38%.

Apakah gas, listrik, dan kemasan termasuk food cost?

Gas dan listrik tidak; keduanya biaya operasional. Kemasan boleh dimasukkan atau dipisah, asal caramu sama setiap bulan supaya angkanya bisa dibandingkan.

Kenapa food cost bulanan lebih tinggi dari hitungan resep?

Biasanya karena porsi tidak sesuai takaran, bahan basi atau terbuang, salah catat, atau bahan hilang. Bandingkan pemakaian bahan sebenarnya dengan resep dikali jumlah porsi terjual untuk melihat seberapa besar selisihnya.

Cara kami menulis & memeriksa fakta ada di Kebijakan Redaksi. Artikel ini untuk edukasi, bukan nasihat keuangan, pajak, atau hukum untuk kondisi pribadimu — dan Taraf tidak menjual atau merekomendasikan produk keuangan apa pun.

Baca juga

Cara Menentukan Gaji Sendiri sebagai Pemilik Usaha KecilCara Menentukan Harga Jasa Salon, Barbershop, dan BengkelOmzet vs Untung: Bedanya dan Kenapa Kas Bisa Tetap Tipis