Cara Menghitung Laba Bersih Usaha: Rumus, Contoh Warung, dan Bedanya dengan Omzet — Blog Taraf
Coba Taraf

Pembukuan Usaha

Cara Menghitung Laba Bersih Usaha: Rumus, Contoh Warung, dan Bedanya dengan Omzet

Tim Redaksi Taraf · · 5 menit baca

Jawaban singkat

Laba bersih = omzet − modal barang yang terjual (HPP) − biaya operasional. Omzet adalah semua uang dari penjualan; laba bersih adalah yang benar-benar tersisa setelah semua biaya usaha dibayar. Contoh: warung kopi dengan penjualan Rp7.466.000 sebulan, modal barang Rp3.107.000, dan biaya Rp2.640.000 punya laba bersih Rp1.719.000 — sekitar 23% dari omzet.

Banyak pemilik usaha merasa dagangannya laris, tapi di akhir bulan uangnya seperti menguap. Penyebab paling umum: yang dipantau hanya omzet (uang masuk), bukan laba bersih (uang yang benar-benar jadi milik usaha). Artikel ini menjelaskan rumusnya langkah demi langkah dengan contoh angka warung kopi, supaya kamu bisa menghitung sendiri hari ini juga.

Omzet, laba kotor, dan laba bersih: apa bedanya?

IstilahArtinyaRumus
Omzet (penjualan)Semua uang yang diterima dari pembeliHarga jual × jumlah terjual
HPP (modal barang terjual)Biaya bahan atau barang untuk produk yang sudah terjualModal per produk × jumlah terjual
Laba kotorSisa setelah modal barangOmzet − HPP
Biaya operasionalBiaya menjalankan usaha: sewa, listrik, gaji, kemasan, internetJumlah semua biaya bulan itu
Laba bersihYang benar-benar tersisa untuk usahaLaba kotor − biaya operasional

Kuncinya ada di kata terjual. Kalau bulan ini kamu belanja stok Rp5 juta tapi yang terjual baru senilai modal Rp3 juta, yang masuk hitungan HPP bulan ini hanya Rp3 juta. Sisanya masih berupa stok — itu aset, bukan biaya.

Contoh hitungan: warung kopi selama satu bulan

PosJumlahKeterangan
Penjualan (omzet)Rp7.466.000Dari catatan kasir sebulan
Modal barang terjual (HPP)−Rp3.107.000Kopi, susu, gula aren, roti, cup
Laba kotorRp4.359.00058% dari omzet
Sewa kios−Rp1.500.000
Listrik & air−Rp350.000
Gas, kemasan, kebersihan, internet−Rp790.000
Laba bersihRp1.719.00023% dari omzet

Angka di atas adalah data contoh warung kopi di aplikasi Taraf, dipakai untuk ilustrasi.

Perhatikan jaraknya: omzet Rp7,4 juta terdengar besar, tapi yang benar-benar menjadi laba hanya Rp1,7 juta. Kalau pemilik mengambil Rp3 juta untuk kebutuhan rumah karena "omzetnya kan Rp7 juta", usahanya sebenarnya sedang dimakan pelan-pelan.

Langkah menghitung laba bersih sendiri

  1. Jumlahkan semua penjualan dalam periode yang sama (harian, mingguan, atau bulanan). Jangan campur dengan uang dari luar penjualan, misalnya tambahan modal dari tabungan pribadi.
  2. Hitung modal barang yang terjual. Untuk barang dagangan: harga beli × jumlah terjual. Untuk makanan dan minuman: hitung modal per porsi dulu — caranya ada di panduan menghitung HPP per porsi.
  3. Kurangi omzet dengan HPP untuk mendapat laba kotor.
  4. Jumlahkan biaya operasional periode itu: sewa, listrik, air, gas, gaji karyawan, kemasan, ongkos kirim yang kamu tanggung, internet, biaya aplikasi, dan potongan pembayaran non-tunai kalau ada.
  5. Kurangi laba kotor dengan biaya operasional. Hasilnya laba bersih sebelum pajak. Kalau usahamu membayar PPh Final UMKM 0,5% dari omzet, masukkan juga sebagai biaya — lihat aturan pajak UMKM terbaru.

5 kesalahan yang bikin laba terlihat lebih besar dari aslinya

  • Gaji diri sendiri tidak dihitung. Kalau kamu yang jaga toko setiap hari, tenagamu punya nilai. Tentukan gaji tetap untuk dirimu, lalu catat sebagai biaya — bukan ambil uang laci semaunya. Selengkapnya di cara memisahkan uang pribadi dan usaha.
  • Pengambilan pribadi dianggap biaya, atau sebaliknya tidak dicatat sama sekali. Uang yang kamu ambil untuk keperluan rumah (disebut prive) bukan biaya usaha, tapi tetap harus dicatat supaya saldo kas cocok.
  • Belanja stok dicatat sebagai biaya penuh di bulan itu. Akibatnya bulan belanja besar terlihat rugi, bulan berikutnya terlihat untung besar. Yang dihitung sebagai biaya hanya modal barang yang terjual.
  • Biaya kecil yang tidak rutin terlupa: servis mesin, ganti peralatan, perizinan, iuran lingkungan. Kecil-kecil, tapi setahun bisa jutaan.
  • Kasbon dihitung sebagai uang masuk. Penjualan yang belum dibayar tetap penjualan, tapi uangnya belum ada di laci. Pantau terpisah — lihat cara mencatat kasbon pelanggan.

Berapa persen laba bersih yang wajar?

Tidak ada angka tunggal untuk semua usaha, karena margin sangat bergantung pada jenis dagangan. Toko kelontong yang menjual barang jadi biasanya punya margin per barang tipis dan mengandalkan volume, sedangkan usaha makanan dan minuman yang mengolah sendiri biasanya punya laba kotor lebih tinggi tapi biaya tenaga dan tempat lebih besar. Yang lebih berguna daripada patokan umum adalah membandingkan usahamu dengan dirinya sendiri: apakah persentase laba bersih bulan ini naik atau turun dibanding bulan lalu, dan pos biaya mana yang berubah.

Kenapa sebaiknya dicek tiap hari, bukan tiap akhir bulan

Kalau laba baru dihitung di akhir bulan, masalahnya sudah terlambat diperbaiki: harga bahan yang naik diam-diam, menu yang ternyata rugi, atau selisih uang laci. Dengan melihat laba harian, kamu bisa bereaksi minggu itu juga — menaikkan harga, mengganti pemasok, atau menghentikan menu yang tidak menguntungkan.

Di Taraf Usaha, setiap penjualan dari kasir otomatis membawa modal barangnya, dan biaya dicatat di tempat yang sama. Hasilnya, laba bersih hari ini, minggu ini, dan bulan ini langsung terlihat di beranda — tanpa menghitung ulang di buku atau spreadsheet.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa bedanya laba kotor dan laba bersih?

Laba kotor adalah omzet dikurangi modal barang yang terjual. Laba bersih adalah laba kotor dikurangi biaya operasional seperti sewa, listrik, dan gaji. Laba bersih yang menunjukkan apakah usaha benar-benar untung.

Apakah uang yang saya ambil untuk keperluan rumah termasuk biaya usaha?

Tidak. Pengambilan pribadi (prive) bukan biaya usaha, jadi tidak mengurangi laba. Tapi tetap harus dicatat, karena mengurangi uang kas usaha. Cara yang lebih sehat adalah menggaji diri sendiri dengan jumlah tetap dan mencatatnya sebagai biaya.

Kalau saya belanja stok banyak bulan ini, apakah laba bulan ini jadi kecil?

Tidak seharusnya. Yang dihitung sebagai biaya hanya modal dari barang yang sudah terjual. Stok yang belum terjual masih berupa aset dan baru menjadi biaya saat barangnya laku.

Seberapa sering sebaiknya laba dihitung?

Idealnya dipantau harian dan direkap bulanan. Pemantauan harian membantu menemukan masalah lebih cepat, sedangkan rekap bulanan dipakai untuk mengevaluasi harga, biaya, dan keputusan usaha.

Cara kami menulis & memeriksa fakta ada di Kebijakan Redaksi. Artikel ini untuk edukasi, bukan nasihat keuangan, pajak, atau hukum untuk kondisi pribadimu — dan Taraf tidak menjual atau merekomendasikan produk keuangan apa pun.

Baca juga

Cara Mencatat Keuangan Warung Makan: Belanja Pasar, HPP per Porsi, dan Laba HarianCara Pembukuan Bengkel Motor: Pisahkan Jasa dan Sparepart supaya Laba KelihatanCara Pembukuan Usaha Laundry Kiloan: Hitung Biaya per Kg, Catat Cucian, dan Laba