Pembukuan Usaha
Cara Menghitung Penyusutan Peralatan Usaha Kecil (Contoh Kulkas & Mesin Kopi)
Penyusutan adalah cara membagi harga alat usaha — kulkas, etalase, mesin kopi, gerobak — ke beberapa tahun pemakaiannya. Rumus paling sederhana adalah garis lurus: (harga beli − perkiraan nilai jual kembali) ÷ umur pakai. Contohnya, mesin kopi Rp12 juta yang diperkirakan laku Rp2 juta setelah 5 tahun menyusut Rp2 juta per tahun, atau sekitar Rp166.700 per bulan. Angka itu dimasukkan sebagai biaya bulanan supaya laba bersihmu jujur, dan idealnya disisihkan sebagai dana ganti alat.
Kenapa penyusutan perlu dihitung?
Bayangkan kamu membeli kulkas Rp6 juta di bulan Maret. Kalau dicatat sebagai pengeluaran sekaligus, laporan Maret terlihat rugi besar, sementara bulan-bulan sesudahnya terlihat untung tanpa biaya kulkas sama sekali. Padahal kulkas itu dipakai bertahun-tahun untuk menghasilkan penjualan.
Akibatnya dua kali salah: kamu bisa panik di bulan pembelian, lalu merasa terlalu untung di bulan-bulan berikutnya — dan uangnya ikut terpakai. Begitu alat itu rusak, dana penggantinya tidak ada. Penyusutan meratakan biaya alat sesuai masa pakainya.
Rumus garis lurus
Penyusutan per tahun = (harga beli − nilai sisa) ÷ umur pakai (tahun). Penyusutan per bulan = penyusutan per tahun ÷ 12.
- Harga beli: harga alat ditambah ongkos kirim dan pemasangan.
- Nilai sisa: perkiraan harga kalau alat itu dijual bekas di akhir masa pakainya. Kalau ragu, isi nol — hasilnya lebih hati-hati.
- Umur pakai: perkiraanmu sendiri, berapa tahun alat itu masih layak dipakai. Patokannya bisa dari pengalaman memakai alat serupa, masa garansi, atau intensitas pemakaian. Alat yang dipakai 14 jam sehari biasanya lebih cepat aus daripada yang dipakai 6 jam.
Contoh: kedai kopi kecil
| Alat | Harga beli / nilai sisa | Umur pakai | Penyusutan per bulan |
|---|---|---|---|
| Mesin espresso | Rp12 jt / Rp2 jt | 5 tahun | Rp166.700 |
| Grinder | Rp3,6 jt / Rp600 rb | 4 tahun | Rp62.500 |
| Kulkas showcase | Rp6 jt / Rp1,2 jt | 6 tahun | Rp66.700 |
| Meja bar & kursi | Rp4,8 jt / Rp0 | 4 tahun | Rp100.000 |
| Total | Rp26,4 jt | Rp395.800 |
Contoh hitungan mesin espresso: (Rp12 juta − Rp2 juta) ÷ 5 tahun = Rp2 juta per tahun, lalu ÷ 12 = Rp166.700 per bulan. Semua angka di atas contoh, bukan harga pasar atau standar umur pakai. Dari contoh ini, kedai itu punya "biaya alat" sekitar Rp395.800 per bulan yang tidak pernah terlihat di laci kas. Kalau laba bersih sebelum penyusutan Rp3 juta per bulan, laba bersih sebenarnya sekitar Rp2,6 juta.
Alat mana yang perlu disusutkan?
- Disusutkan: alat yang dipakai lebih dari setahun dan harganya cukup besar, misalnya mesin, kulkas, freezer, etalase, gerobak, kompor besar, printer struk, atau renovasi tempat usaha.
- Langsung dicatat sebagai biaya: barang kecil atau cepat habis, seperti sendok, gelas, lap, dan kemasan. Menyusutkannya hanya menambah repot.
- Patokan praktis untuk usaha kecil: alat seharga Rp1 juta ke atas yang umurnya lebih dari setahun. Ini patokan praktis untuk pembukuan sendiri, bukan aturan resmi — sesuaikan dengan skala usahamu.
Penyusutan bukan uang keluar — maka sisihkan
Penyusutan tidak mengurangi uang di laci; uangnya sudah keluar saat alat dibeli. Justru karena itu biaya ini mudah terlupakan. Cara paling sederhana supaya tidak kaget saat alat rusak: setiap bulan, pindahkan uang sejumlah penyusutan ke rekening atau pos terpisah sebagai dana ganti alat. Pada contoh di atas, sisihkan sekitar Rp400 ribu per bulan.
Dana ini juga menjadi bantalan kalau alat rusak lebih cepat dari perkiraan. Soal mengatur uang masuk-keluar lainnya, lihat cara mengelola arus kas usaha kecil.
Bagaimana dengan pajak?
Kalau usahamu memakai PPh final 0,5%, pajaknya dihitung dari omzet (peredaran bruto), jadi penyusutan tidak mengurangi pajak — penjelasannya ada di pajak UMKM PPh final 0,5%. Penyusutan di artikel ini untuk pembukuanmu sendiri: tahu untung yang sebenarnya dan menyiapkan dana ganti alat. Kalau usahamu memakai pembukuan untuk pajak, aturan penyusutan pajak punya kelompok dan masa manfaat sendiri, jadi tanyakan ke konsultan pajak.
Memasukkannya ke laporan laba rugi
Laporan laba rugi sederhana biasanya berurutan: penjualan − modal barang terjual = laba kotor; laba kotor − biaya usaha = laba bersih. Penyusutan masuk ke biaya usaha, sejajar dengan sewa, listrik, dan gaji. Rumus lengkapnya ada di cara menghitung laba bersih usaha.
Laporan laba rugi di Taraf Usaha menampilkan penjualan, modal barang terjual, laba kotor, biaya usaha, dan laba bersih. Taraf belum menghitung penyusutan otomatis, jadi kurangkan angka penyusutan bulananmu dari laba bersih di laporan untuk melihat untung yang sebenarnya.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Apa rumus penyusutan yang paling mudah untuk UMKM?
Metode garis lurus: (harga beli − nilai sisa) ÷ umur pakai dalam tahun. Bagi 12 untuk mendapatkan penyusutan per bulan.
Apakah penyusutan mengurangi pajak UMKM?
Tidak, kalau usahamu memakai PPh final 0,5%, karena pajaknya dihitung dari omzet. Penyusutan tetap berguna untuk tahu laba bersih yang sebenarnya. Kalau usahamu memakai pembukuan untuk pajak, tanyakan aturan penyusutannya ke konsultan pajak.
Berapa umur pakai kulkas atau mesin kopi untuk usaha?
Tidak ada satu angka yang pasti. Perkirakan dari pengalaman memakai alat serupa, masa garansi, dan seberapa sering alat dipakai setiap hari. Kalau ragu, pilih umur yang lebih pendek supaya hitunganmu lebih hati-hati.
Barang apa yang tidak perlu disusutkan?
Barang kecil atau cepat habis seperti sendok, gelas, lap, dan kemasan. Catat langsung sebagai biaya di bulan pembeliannya.
Cara kami menulis & memeriksa fakta ada di Kebijakan Redaksi. Artikel ini untuk edukasi, bukan nasihat keuangan, pajak, atau hukum untuk kondisi pribadimu — dan Taraf tidak menjual atau merekomendasikan produk keuangan apa pun.