Barcode untuk Toko Kecil: Perlu Daftar atau Tidak, dan Cara Mulai Memakainya — Blog Taraf
Coba Taraf

Operasional Toko

Barcode untuk Toko Kecil: Perlu Daftar atau Tidak, dan Cara Mulai Memakainya

Tim Redaksi Taraf · · 3 menit baca · 5 sumber

Jawaban singkat

Kalau tokomu menjual barang buatan pabrik, tidak perlu mendaftar apa pun — cukup scan barcode yang sudah tercetak di kemasan. Pendaftaran barcode lewat GS1 Indonesia hanya relevan kalau kamu memproduksi barang sendiri dan menjualnya ke toko atau pihak lain yang meminta nomor barcode resmi. Untuk barang tanpa barcode yang hanya dijual di tokomu sendiri, cukup pakai kode internal toko.

Barcode membuat kasir lebih cepat dan mengurangi salah ketik harga. Banyak pemilik toko kecil menunda memakainya karena mengira harus mendaftar dulu atau membeli alat mahal. Padahal, untuk sebagian besar toko kelontong dan minimarket, barcode yang dibutuhkan sudah ada di kemasan barang, dan kamera HP pun bisa dipakai sebagai pemindai.

Barcode mana yang kamu butuhkan?

SituasiBarcode yang dipakaiPerlu daftar?
Menjual barang pabrikan (mi instan, sabun, minuman kemasan)Barcode bawaan di kemasanTidak
Barang buatan sendiri yang hanya dijual di tokomuKode internal tokoTidak
Barang buatan sendiri yang dijual ke toko atau ritel lainNomor barcode (GTIN) dari GS1Ya, lewat keanggotaan GS1 Indonesia
Barang curah atau timbang yang dibungkus sendiriKode internal (GS1 menyediakan awalan 02 dan 20–29 untuk pemakaian terbatas)Tidak; hanya berlaku di dalam tokomu

Kapan perlu nomor barcode dari GS1?

GS1 adalah organisasi yang mengelola standar nomor barcode produk di dunia, dan di Indonesia dikelola oleh GS1 Indonesia. Pemilik merek mendapat company prefix yang membuat setiap nomor produknya unik secara global, sehingga barangnya bisa di-scan dengan benar di toko mana pun. Nomor barcode yang diterbitkan GS1 Indonesia umumnya berawalan 899. Persyaratan dan biaya keanggotaan bisa berubah, jadi cek langsung di situs resmi GS1 Indonesia sebelum mendaftar.

Jangan mengarang nomor barcode untuk barang yang akan dijual di toko lain, apalagi menyalin barcode produk orang lain. Nomor yang bentrok bisa membuat barangmu terbaca sebagai produk lain di kasir mereka.

Langkah mulai memakai barcode di toko

  1. Mulai dari barang yang paling laku. Tidak perlu mendaftarkan semua barang sekaligus; 50–100 barang terlaris sudah sangat membantu kasir.
  2. Scan barcode kemasan sambil mengisi nama dan harga. Sekali didaftarkan, berikutnya cukup scan.
  3. Beri kode internal untuk barang tanpa barcode, lalu cetak labelnya dengan printer label. Untuk barang yang jarang terjual, memilih dari daftar di kasir juga tidak masalah.
  4. Pakai scan juga untuk stok. Saat barang datang dari supplier dan saat stok opname, scan jauh lebih cepat daripada mencari nama satu per satu.
  5. Punya data barang di Excel? Impor sekaligus beserta kolom barcode-nya, daripada mengetik ulang.

Kamera HP atau scanner?

  • Kamera HP cukup untuk toko dengan antrean sedikit. Tidak perlu membeli alat tambahan.
  • Scanner tembak USB atau Bluetooth lebih cepat untuk toko yang ramai. Umumnya scanner bekerja seperti keyboard: hasil scan langsung "diketik" ke kolom yang aktif.
  • Barcode yang kusut, basah, atau terlalu kecil kadang sulit terbaca kamera. Sediakan cara cadangan: ketik nomor barcode atau cari nama barang.

Di Taraf Usaha, kamera HP bisa dipakai sebagai pemindai barcode langsung di kasir, dan scanner tembak USB atau Bluetooth juga bisa dipakai. Kalau barcode yang di-scan belum terdaftar, barangnya bisa didaftarkan saat itu juga lalu langsung masuk keranjang. Scan juga tersedia untuk stok opname (setiap scan menambah hitungan satu) dan untuk mencatat barang masuk dari supplier. Data barang beserta barcode bisa diimpor dari Excel atau CSV, sampai 1.000 barang sekaligus.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah toko kelontong perlu mendaftar barcode?

Tidak, kalau hanya menjual barang pabrikan. Barcode di kemasan sudah didaftarkan oleh pemilik mereknya; toko cukup memindainya dan mencatat harga jualnya sendiri.

Apakah barcode berawalan 899 berarti barang buatan Indonesia?

Tidak selalu. Menurut GS1, awalan barcode menunjukkan organisasi GS1 yang menerbitkan nomornya, bukan negara asal pembuatan produk.

Bagaimana dengan barang yang tidak punya barcode?

Beri kode internal yang hanya dipakai di tokomu, lalu cetak labelnya, atau pilih barangnya dari daftar di kasir. GS1 menyediakan rentang awalan 02 dan 20–29 untuk kode yang hanya beredar terbatas seperti ini.

Sumber

  1. Tentang GS1 Indonesia dan keanggotaan — GS1 Indonesia
  2. Registrasi produk — GS1 Indonesia
  3. GS1 Company Prefix — GS1
  4. Can I use the GS1 Company Prefix (barcode numbers) around the world? — GS1 Support
  5. Summary of GS1 MO Prefixes 20–29 — GS1

Cara kami menulis & memeriksa fakta ada di Kebijakan Redaksi. Artikel ini untuk edukasi, bukan nasihat keuangan, pajak, atau hukum untuk kondisi pribadimu — dan Taraf tidak menjual atau merekomendasikan produk keuangan apa pun.

Baca juga

Cara Membuat Program Member dan Poin untuk UMKM: Pilih Stamp atau Poin?Pelanggan Booking tapi Tidak Datang? Cara Mengurangi No-Show untuk Salon, Barbershop, dan Usaha JasaCara Memasukkan Menu ke Aplikasi Kasir dengan Cepat: Foto Papan Menu, Excel, atau Manual